Tampilkan postingan dengan label pemilu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pemilu. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 April 2009

Rona Pemilu Di TPS 6

Mengubah suatu kebiasaan dan menggantinya sesuatu yang benar-benar baru memnaglah bukan cara yang mudah. Ini terjadi juga dengan pemilu legislatif tahun ini. Yah, lihat saja seberapa besar kertas suara dan cara memeberikan suara, bukan lagi men”coblos’ tapi men”contreng”. Beberapa dari kita asti sudah membayangkan bagaimana kelucuan yang bisa terjadi jauh-jauh hari sebelumnya. Ha....ha...haa... (ketawa dulu soalnya sudah gak bisa nahan).
Kita mulai dari kelucuan pertama yang terjadi di TPS 6, RT 08, desa XX-lah, pokoknya somewhere in Sragentina. Ceritanya ada nenek-nenek yang mau nyontrenglah istilahnya, meskipun waktu baru datang nenek itu bilangnya mau nyoblos. Nah, nenek itu kebetulan gak ngerti caranya, terus minta tolong sama orang disitu buat nyontrengin caleg pilihannya. Langsung deh situasi tidak lagi meunjukkan sifat yang Langsung Umum, Bebas dan Rahasia, karena kertika nenek itu dibantu, otomatis semua saksi dari semua partai ikut nimbrung menyaksikan kejujuran orang yang dimintai bantuan si nenek tadi. Sudah begitu neneknya ngomongnya kerasa banget, “ mas katanya saya disuruh milih partai no sekian dan calegnya nomor sekian.” Yaudah semuanya yang ada di lokasi pemilihan taulah apa yang dicontreng sama nenek itu. No secret anymore!
Kelucuan kedua, dari nenek-nenek juga, yang nyontrengnya bukan di kerttas suara yang ada gambarnya, tapi justru di bagian belakang kertas suara yang ada logo Kpu, ttd KppS, dsb itulah. Ngeri-ngeri-ngeri.
Ada lagi ibu-ibu yang lamaaa banget di bilik suara sambil berkali-kali membolak-balik kertas suara, dan mengeluarkan satu kata: ‘bingung mas’. Alhasil si ibu itu malah dimarahin sama orang-orang. Kasihan ya.
Nah kalau sudah begini siapa yang mau disalahkan, sosialisasi yang salah dan yang gak intensif juga sih. Habis KPPS gak ngasih tau dengan cara yang benar plus ngasih taunya cuman sekali jadi simbah-simbah yang sudah tua itu pada bingung, dong dong deh jadinya. Kayak kata pepatah tu, belajar di usia tua itu ibarat menulis di atas air, alias gampang ilangnya daripada ingatnya. Gak percaya coba aja nulis di air!
Tapi, Selain yang lucu-lucu ada juga tragedi di TPS 6, ada dua orang pingsan alias tidak sadarkan diri setelah memberikan suaranya. Wah jangan-jangan tenaga mereka habis saat melakukan pencontrengan. Tetapi untunglah banyak sukarelawan yang segera memberikan pertolongan pertama pada korban dengan cara berteriak, “eh piye piye piye iki.” Dan pertolongan selanjutnya diberikan oleh petugas keamanan, keluarga korban dan beberapa masyarakat setempat yang memiliki kesempatan untuk berbuat baik, demikian sekilas info.
Yah inilah salah satu cermin, gimana susahnya merubah kebiasaan. Makanya perlu juga pemahaman pendidikan modifikasi perilaku. Bukan sekedar menutup perilaku yang sudah ada, tapi juga menanamkan perilaku yang baru dengan benar, iya kan teman-teman.....

Kalau pemimpin “sungguh terlalu”

Kalau pemimpin “sungguh terlalu”
Sebut saja pak J, ketua KPPS di salah satu TPS di Indonesia. Beliau itu punya tujuh staff anggota KPPS. Tapi hampir semua gawean KPPS dihandle sama bapak J ini. Mulai dari nulis nama-nama pemilih di DPT ke undangan buat para pemilih tetap, ngedarin undangannya sampai tetek bengek yang lain. Yah emang semua ga dikerjain sendiri sih, misalnya waktu nulis undangan buat pemilih yang jumlanya 300 sekian nama itu, dia nyuruh anaknya, soalnya bapak J sadar diri karena bakat dokter yang dia miliki, yaitu pada bakat tulisan dokter, alias tulisannya susah dibaca. Tapi bapak J tidak semena-mena memperbudak anaknya, dia berikan 10% dari upahnya sebagai KPPS buat mengupah anaknya yang udah bantu dia.
Emang dasar ya tu bapak, beliau kan bisa minta tolong staffnya, kok malah nyuruh anaknya. Kan temennya bayarannya sama juga. Kalau begini bukan salah para staff kalu mereka dituduh makan gaji buta dong, aya kan? iya dong! bener kan? bener dong! Tapi staffnya juga gak punya inisiatif gitu, masak gak tau kerjaan KPPS.
Tugas selanjutnya, mengedarkan undangan buat para pemilih. Kali ini pak J cukup bijaksana, karena beliau bersedia menggunakan tenaga staffnya untuk membagikan undangan, dibagi berdasarkan RT masing-masing staff. Sementara di RT tempat Pak J, yah dibagiin sama pak J sendiri.
Sosialisasi?!!! Gak tau tugas siapa? Pak J cuman ngasih sosialisasi cara mencontreng di Rtnya saja, itupun Cuma beberapa kali. Itupun atas inisiatif sendiri, sebab atasannya KPPS gak segera ngasih pinjam contoh kertas suara buat sosialsasi.
Tugas selanjutnya, meneliti, pemilih yang belum dicantumkan+pemilih yang gk ada ditempat, pindah dsb. Pak J juga nanganin sendiri, gak sndiri mutlak sih, biasa... mengandalkan anaknya yang masih pinter buat mengingat nama orang dan membaca nama-nama yang sulit.
h-1, kerja bakti untuk tempat pemilihan, kali ini pak J minta bantuan staffnya, biar ga mubadzir tenaganya he3x.
PEMILU datang... yah sebagai ketua KPPS harus datang paling awal, lakukan tugasnya dan duduk paling sibuk, kasihan juga lihat wajah pak J di belakang smeja dengan tumukan surat suara yang segitu banyak. Tapi beliau kan mau ngerjain ngapain aku yang aksihan iya kan..!
Saat penghitungan suara, ketua KPPS juga yang musti keluar banyak tenaga. Pegang surat suar yng segitu lebarnya sambil teriak-teriak sekian kalimat untuk sekian ratus kali. Capek pak?
Tapi waktu ditanya soal kerjaannya, bapak Cuma bilang begini: “ ngapain bikin susah oranglian, kita tau sama-sama repot, yang penting saya tidak keberatan. Biarlah Allah yang menilai, kita ngakoni sajalah!”